BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali,
menggunakan bahasa dan mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali, kurang
lebih 90% beragama Hindu. Sedangkan sisanya beragama Buddha, Islam, dan
Kristen. Ada kurang lebih 5 juta orang Bali dan sebagian besar dari mereka
tinggal di pulau Bali, namun mereka juga tersebar di seluruh Indonesia.
Penyebaran orang Bali ke luar Bali sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Salah
satu jejak pengaruh bangsa Bali pada kebudayaan Betawi adalah kesenian
Ondel-Ondel. Orang-orangan raksasa ini berasal dari kesenian Barong Landung
Bali.
1.2 Tujuan
1 1.
Asal usul kehidupan suku Bali
2 2.
Filosofi kehidupan suku Bali
3 3.
Tradisi suku Bali
4 4.
Tata cara kehidupan suku Bali
BAB II
SEJARAH
2.1
Asal Usul Suku Bali
Asal-usul suku Bali
terbagi ke dalam tiga periode atau gelombang migrasi: gelombang pertama terjadi sebagai
akibat dari persebaran penduduk yang terjadi di Nusantara selama zaman
prasejarah; gelombang kedua
terjadi secara perlahan selama masa perkembangan
agama Hindu di Nusantara; gelombang ketiga merupakan gelombang terakhir yang berasal
dari Jawa, ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15 seiring dengan Islamisasi yang terjadi di Jawa—sejumlah rakyat
Majapahit memilih untuk melestarikan kebudayaannya di Bali, sehingga membentuk sinkretisme antara kebudayaan Jawa klasik dengan
tradisi asli Bali.
2.2 Agama / Kepercayaan
Agama yang dianut oleh sebagian orang Bali adalah agama
Hindu sekitar 95% dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya adalah penganut
agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran
Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.
2.3
Kebutuhan
Mata Pencaharian Penduduk beranekaragam yang meliputi
pekerjaan sebagai petani, pengrajin, pedagan dan berbagai jasa khususnya bidang
kepariwisataan. Pertanian merupakan mata pencaharian pokok masyarakat dan
sebagian besar masyarakat Bali adalah petani. Jenis pertanian meliputi
ppertanian sawah dan perkebunan. Didalam sistem pertanian di bali subak
memegang peranan yang sangat penting. Saat ini di Bali terdapat sekitar 1.482
subak dan subak abian sekitar 698. Subak merupakan salah satu lembaga
tradisional yang merupakan satu kesatuan para pemilik atau penggarap sawah yang
menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu.
2.4 Pokok Doa
Kemudian daripada itu aku melihat : sesungguhnya, suatu
kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhintung banyaknya, dari segala
bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan
Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
Dan dengan suara nyaring mereka berseru : "Keselamatan bagi Allah kami
yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba !" (TB Wahyu 7:9-10)
Berdoa agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus, berkat dan
kasihNya di tengah-tengah suku Bali, agar terang dan kemuliaan Tuhan bercahaya
di atasnya. Berdoa agar hati mereka disentuh oleh kasih Tuhan melalui berbagai
cara dan mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.
Berdoa agar Tuhan yang empunya tuaian membangkitkan
gerejaNya untuk bersatu dan bekerjasama, menyediakan pekerja : pendoa syafaat,
penerjemah Alkitab, kaum profesional, penabur dan penuai untuk memberkati dan
meningkatkan kesejahteraan hidup suku Bali
Berdoa bagi adanya lembaga & gereja yang digerakkan
oleh Tuhan untuk mengadopsi suku Bali yang juga berbeban dalam meningkatkan
kesejahteraan hidup mereka.
2.5 Nenek Moyang Suku
Bali
Sebelum bangsa Melayu Austronesia masuk ke Indonesia,
wilayah Indonesia sudah ada suku Weddid dan Negrito. Kedua suku tersebut
berasal dari daerah Tonkin. Dari Tonkin kemudian menyebar ke Hindia Belanda, Indonesia,
hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Nenek Moyang Suku Bali merupakan Bangsa
Melayu Muda (Deutro Melayu) . Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) adalah rumpun
bangsa Austronesia yang datang di Indonesia pada gelombang kedua terjadi pada
sekitar 500 tahun SM. Bangsa Melayu Muda datang ke Indonesia melalui jalur
barat, yakni berangkat dari Yunan, Teluk Tonkin, Vietnam, Thailand, Semenanjung
Malaka, dan kemudian menyeberangi Selat Malaka hingga sampai di Kepulauan
Indonesia. Bangsa Melayu Muda masuk ke Indonesia membawa kebudayaan logam
(perunggu). Bangsa ini memiliki ciri yang sama dengan Bangsa Melayu Tua (Proto
Melayu) dan berkembang menjadi Suku Aceh, Minagkabau (Sumatra Barat), Suku
Jawa, Suku Bali, Suku Bugis, dan Makassar di Sulawesi, dan sebagainya.
BAB III
TRADISI SUKU
3.1 Tradisi Suku Bali
Mungkin
tidak ada kelompok etnis di Indonesia yang lebih memahami akan identias mereka
sendiri selain sekitar 2.5 juta orang Bali. Sebagai penduduk yang mendiami
pulau Bali, Lombok dan bagian barat Sumbawa ini, orang Bali sering digambarkan
sebagai orang yang anggun, tenang dan paham nilai-nilai estetika. Tidak
seperti kebanyakan orang Jawa, orang Bali secara antusias mengambil bagian di
beberapa kelompok bisnis yang saling bertautan hubungan keluarga. Salah satu
tradisi mereka yang paling penting disebut dadia, kelompok kerjasama
berdasarkan sistem patrilineal atau garis keturunan ayah. Ini adalah sekelompok
orang yang menganggap satu keturunan lewat garis keturunan laki-laki dan
berasal dari nenek moyang yang sama. Kelompok ini memelihara candi dari nenek
moyang, juga peninggalan harta karun mereka yang mendukung pelaksanaan ritual
yang berhubungan dengannya, selain itu mereka juga memilih seorang pemimpin.
Image dadia tergantung antara lain dari luas dan kuatnya keanggotaan. Tetapi,
kebanyakan organisasi kelompok-kelompok ini cenderung dilokalisasi, karena
lebih mudah untuk mendapatkan bantuan lokal untuk mendukung aktivitas serta
perlindungan terhadap candi-candi mereka. Orang Bali lebih suka mengambil
pasangan dari kalangan mereka sendiri. Hal ini merupakan basis dasar untuk
mengorganisir aktivitas ekonomi, seperti kerjasama dalam industri seni pahat,
emas, perak, sanggar lukis dan tari.
3.2 Adat Perkawinan Bali
Dalam perkawinan umat hindu di bali. ada 2 tujuan hidup
yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudukan artha dan kama
yang berdasarkan dharam. Pernikahan adat bali menggunakan sistem patriarki
yaitu semua tahapan dan tahap proses pernikahan dilakukan dirumah mempelai
pria. proses upacara adat pernikahan bali disebut “mekala-kalaan (natab
banten). pelaksanaan upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang diadakan
dihalaman rumah sebagai titik sentral kekuatan kala buchari yang dipercaya
sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Mekala-kalaan sendiri
berasal dari kata kala yang mengandung pengertian energi. upacara mekala-kalaan
ini mempunyai maksud untuk menetralisir kekuatan kala/energi yang bersifat
buruk/negatif dan berubah menjadi positif/baik. Rangkaian tahapan upacara
pernikahan adat bali :
UPACARA NGEKEB
acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin
wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga dengan
dengan memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan
kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa
keturunan yang baik.
MUNGKAH LAWANG (Buka pintu)
seorang utusan mungkah lawang bertugas mengetuk pintu kamar
tempat pengantin wanita berada sebanyak 3 kali sambil diiringi oleh seorang
malat yang menyanyikan tembang bali.
UPACARA
MESEGEHAGUNG
sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin
pria. keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara mesegehagung
yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita.
kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. ibu dari pengantin pria
akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain
kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang
kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang bali dan biasanya berjumlah 200
kepeng.
MADENGEN-DENGEN
upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau
mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. upacara ini
dipimpin oleh seorang pemangku adat atau balian.
MEWIDHI WIDANA
acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali
untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara
acara sebelumnya. selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tampat pemujaan
untuk berdoa memohon izin dan restu Yang Kuasa. acara ini dipimpin oleh seorang
pemangku merajan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pulau
Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar.
Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di
Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah
beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai
maupun tempat peristirahatan. Bahasa Bali juga banyak terpengaruh bahasa Jawa,
terutama bahasa Jawa Kuna dan lewat bahasa Jawa, dan kemudian dalam Mata
Pencaharian penduduk bali beranekaragam yang meliputi pekerjaan sebagai petani,
pengerajin, pedagang dan berbagai jasa khususnya bidang kepariwisataan.
Pertanian merupakan mata pencarian pokok masyarakat dan sebagian besar
masyarakat bali adalah petani. Pola perkampungan/ permukiman orang Bali dari
segi strukturnya dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
a. Pola perkampungan mengelompok padat,
b.
Pola perkampungan menyebar.
DAFTAR PUSTAKA