Senin, 18 Januari 2016

SEJARAH, SIFAT DAN TRADISI BALI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang

Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali, menggunakan bahasa dan mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali, kurang lebih 90% beragama Hindu. Sedangkan sisanya beragama Buddha, Islam, dan Kristen. Ada kurang lebih 5 juta orang Bali dan sebagian besar dari mereka tinggal di pulau Bali, namun mereka juga tersebar di seluruh Indonesia. Penyebaran orang Bali ke luar Bali sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Salah satu jejak pengaruh bangsa Bali pada kebudayaan Betawi adalah kesenian Ondel-Ondel. Orang-orangan raksasa ini berasal dari kesenian Barong Landung Bali.

1.2 Tujuan

1    1.      Asal usul kehidupan suku Bali
2    2.      Filosofi kehidupan suku Bali
3    3.      Tradisi suku Bali

4    4.      Tata cara kehidupan suku Bali

BAB II
SEJARAH
2.1 Asal Usul Suku Bali
Asal-usul suku Bali terbagi ke dalam tiga periode atau gelombang migrasi: gelombang pertama terjadi sebagai akibat dari persebaran penduduk yang terjadi di Nusantara selama zaman prasejarah; gelombang kedua terjadi secara perlahan selama masa perkembangan agama Hindu di Nusantara; gelombang ketiga merupakan gelombang terakhir yang berasal dari Jawa, ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15 seiring dengan Islamisasi yang terjadi di Jawa—sejumlah rakyat Majapahit memilih untuk melestarikan kebudayaannya di Bali, sehingga membentuk sinkretisme antara kebudayaan Jawa klasik dengan tradisi asli Bali.


 2.2 Agama / Kepercayaan
Agama yang dianut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95% dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.
2.3 Kebutuhan
Mata Pencaharian Penduduk beranekaragam yang meliputi pekerjaan sebagai petani, pengrajin, pedagan dan berbagai jasa khususnya bidang kepariwisataan. Pertanian merupakan mata pencaharian pokok masyarakat dan sebagian besar masyarakat Bali adalah petani. Jenis pertanian meliputi ppertanian sawah dan perkebunan. Didalam sistem pertanian di bali subak memegang peranan yang sangat penting. Saat ini di Bali terdapat sekitar 1.482 subak dan subak abian sekitar 698. Subak merupakan salah satu lembaga tradisional yang merupakan satu kesatuan para pemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu.
2.4 Pokok Doa
Kemudian daripada itu aku melihat : sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhintung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru : "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba !" (TB Wahyu 7:9-10)
Berdoa agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus, berkat dan kasihNya di tengah-tengah suku Bali, agar terang dan kemuliaan Tuhan bercahaya di atasnya. Berdoa agar hati mereka disentuh oleh kasih Tuhan melalui berbagai cara dan mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.
Berdoa agar Tuhan yang empunya tuaian membangkitkan gerejaNya untuk bersatu dan bekerjasama, menyediakan pekerja : pendoa syafaat, penerjemah Alkitab, kaum profesional, penabur dan penuai untuk memberkati dan meningkatkan kesejahteraan hidup suku Bali
Berdoa bagi adanya lembaga & gereja yang digerakkan oleh Tuhan untuk mengadopsi suku Bali yang juga berbeban dalam meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
2.5 Nenek Moyang Suku Bali
Sebelum bangsa Melayu Austronesia masuk ke Indonesia, wilayah Indonesia sudah ada suku Weddid dan Negrito. Kedua suku tersebut berasal dari daerah Tonkin. Dari Tonkin kemudian menyebar ke Hindia Belanda, Indonesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Nenek Moyang Suku Bali merupakan Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) . Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) adalah rumpun bangsa Austronesia yang datang di Indonesia pada gelombang kedua terjadi pada sekitar 500 tahun SM. Bangsa Melayu Muda datang ke Indonesia melalui jalur barat, yakni berangkat dari Yunan, Teluk Tonkin, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaka, dan kemudian menyeberangi Selat Malaka hingga sampai di Kepulauan Indonesia. Bangsa Melayu Muda masuk ke Indonesia membawa kebudayaan logam (perunggu). Bangsa ini memiliki ciri yang sama dengan Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) dan berkembang menjadi Suku Aceh, Minagkabau (Sumatra Barat), Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis, dan Makassar di Sulawesi, dan sebagainya.

BAB III
TRADISI SUKU

3.1 Tradisi Suku Bali
Mungkin tidak ada kelompok etnis di Indonesia yang lebih memahami akan identias mereka sendiri selain sekitar 2.5 juta orang Bali. Sebagai penduduk yang mendiami pulau Bali, Lombok dan bagian barat Sumbawa ini, orang Bali sering digambarkan sebagai orang yang anggun, tenang dan paham nilai-nilai estetika. Tidak seperti kebanyakan orang Jawa, orang Bali secara antusias mengambil bagian di beberapa kelompok bisnis yang saling bertautan hubungan keluarga. Salah satu tradisi mereka yang paling penting disebut dadia, kelompok kerjasama berdasarkan sistem patrilineal atau garis keturunan ayah. Ini adalah sekelompok orang yang menganggap satu keturunan lewat garis keturunan laki-laki dan berasal dari nenek moyang yang sama. Kelompok ini memelihara candi dari nenek moyang, juga peninggalan harta karun mereka yang mendukung pelaksanaan ritual yang berhubungan dengannya, selain itu mereka juga memilih seorang pemimpin. Image dadia tergantung antara lain dari luas dan kuatnya keanggotaan. Tetapi, kebanyakan organisasi kelompok-kelompok ini cenderung dilokalisasi, karena lebih mudah untuk mendapatkan bantuan lokal untuk mendukung aktivitas serta perlindungan terhadap candi-candi mereka. Orang Bali lebih suka mengambil pasangan dari kalangan mereka sendiri. Hal ini merupakan basis dasar untuk mengorganisir aktivitas ekonomi, seperti kerjasama dalam industri seni pahat, emas, perak, sanggar lukis dan tari.

3.2 Adat Perkawinan Bali
Dalam perkawinan umat hindu di bali. ada 2 tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudukan artha dan kama yang berdasarkan dharam. Pernikahan adat bali menggunakan sistem patriarki yaitu semua tahapan dan tahap proses pernikahan dilakukan dirumah mempelai pria. proses upacara adat pernikahan bali disebut “mekala-kalaan (natab banten). pelaksanaan upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang diadakan dihalaman rumah sebagai titik sentral kekuatan kala buchari yang dipercaya sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Mekala-kalaan sendiri berasal dari kata kala yang mengandung pengertian energi. upacara mekala-kalaan ini mempunyai maksud untuk menetralisir kekuatan kala/energi yang bersifat buruk/negatif dan berubah menjadi positif/baik. Rangkaian tahapan upacara pernikahan adat bali :

UPACARA NGEKEB

acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga dengan dengan memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.






 MUNGKAH LAWANG (Buka pintu)

seorang utusan mungkah lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak 3 kali sambil diiringi oleh seorang malat yang menyanyikan tembang bali.


UPACARA MESEGEHAGUNG

sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria. keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang bali dan biasanya berjumlah 200 kepeng.


MADENGEN-DENGEN

upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. upacara ini dipimpin oleh seorang pemangku adat atau balian.


 MEWIDHI WIDANA

acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara acara sebelumnya. selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tampat pemujaan untuk berdoa memohon izin dan restu Yang Kuasa. acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Bahasa Bali juga banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuna dan lewat bahasa Jawa, dan kemudian dalam Mata Pencaharian penduduk bali beranekaragam yang meliputi pekerjaan sebagai petani, pengerajin, pedagang dan berbagai jasa khususnya bidang kepariwisataan. Pertanian merupakan mata pencarian pokok masyarakat dan sebagian besar masyarakat bali adalah petani. Pola perkampungan/ permukiman orang Bali dari segi strukturnya dibedakan atas 2 jenis, yaitu :

a.    Pola perkampungan mengelompok padat,
b.    Pola perkampungan menyebar.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bali diakses tanggal 19 November 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar